Loading...

Rabu, 09 Maret 2011

sang pencerah: Collaborative albums

sang pencerah: Collaborative albums

Collaborative albums

Collaborative albums

PENELUSURAN VIRUS AVIAN INFLUENZA H5N1 DENGAN METODE ANTIGENIC CARTOGRAPHY DI INDONESIA


Rama Dharmawan1, Sri Wahyuningsih1, Akhmad Junaedi1, dan L.M Kim2, Paul Selleck3
1Balai Besar Veteriner Wates; 2 FAO - (OFFLU); 3AAHL

            Perkembangan virus Avian Influenza di Indonesia sangat cepat perubahannya, hal ini disebabkan juga karena sifat virus AI yang mudah berubah secara struktur genetic maupun felogenik, namun dalam dekade tahun ini mulai bulan Januari – Desember kejadian kasus AI mulai menurun di bandingkan tahun sebelumnya, belum ada benang merah antara kejadian kasus AI di lapangan dengan perubahan genetis virus dari tahun ke tahun. Penelusuran Virus AI selama ini masih menggunakan metode yang mahal dan lama, namun Penelusuran virus AI dengan metode Antigenic Cartography dapat di lakukan dengan cepat dan murah  dan sebenarnya sangat menarik karena dari data yang di kumpulkan sebelumnya, banyak virus-virus AI dari tahun 2008-2010 yang berasal dari unggas cenderung mengalami revolusi, sedangkan di tingkat mamalia virus cenderung lebih stabil, hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama untuk kegiatan AI bukan difokuskan ke arah hewan unggas namun hewan-hewan yang termasuk mamalia, karena selama ini belum ada survailance AI di tingkat antar species, yang nantinya juga bisa mendukung terhadap program Antigenic Cartography dalam rangka membuat vaksin untuk menanggulangi wabah AI lanjutan.
 Kegiatan Antigenic Cartography sampai saat ini  masih berkonsentrasi terhadap Prescreening virus, untuk semua DIC seluruh Indonesia, untuk langkah selanjutnya adalah menseleksi virus yang telah diuji untuk bisa di evaluasi perubahan gambaran posisi virus pada peta Antigenic Cartografi, sebelumnya OFFLU telah mengadakan beberapa kali pertemuan agar bisa bekerja maksimal di masing-masing Laboratorium di setiap DIC namun harapan itu juga masih di evaluasi lagi karena kiriman hasil uji isolat virus masih berbeda-beda formatnya ke Pusat Antigenic Cartography (BBVET Wates), selain itu reagen yang digunakan masih perlu di tambahkan untuk bisa di gunakan dalam pengujian full Antigenic Cartography, sampai saat ini sudah dilakukan seleksi isolate virus AI sejumlah 34 isolat virus dari  jumlah virus yang telah di Pre Screening 367 isolat virus dari 8 DIC dari seluruh Indonesia .
Dari hasil seleksi tersebut, dilakukan penggandaan jumlah isolate, dari Pasase 1 sampai Pasase 3; akan tetapi dari 34 isolate tersebut hanya ada 32 isolate yang bisa di tumbuhkan lagi, dari 32 Isolate yang sudah di persiapkan tersebut di harapkan dapat di kirimkan ke AAHL (Australian Animal Health Laboratory) di Geelong untuk di uji menggunakan full panel reagen Antigenic Cartography agar bisa di seleksi lagi lebih lanjut virus-virus yang telah mengalami evolusi, selanjutnya hasil seleksi  virus-virus AI dari pengujian Full panel Antigenic Cartography akan  di karakteristik secara genetik dengan metode Squencing oleh 3 institusi nasional yaitu Balitvet, BPPH Bukit tinggi dan PUSVETMA, ditambah 1 institusi Internasional sebagai  lembaga Refferent dan quality control pengujian yaitu AAHL (Australian Animal Health Laboratory) di Geeelong, Australia dan sekaligus mengirimkan data pengujian Full panel Antigenic Cartography tersebut peta program MDS (Multi Dimentionale Scaling) di Erasmus , Belanda. Namun hingga sekarang kami  belum ada informasi kejelasan dari pemerintah tentang ijn pengiriman isolate, Standart operasional, petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pengiriman ke AAHL (Australian Animal Health Laboratory) di Geelong,Australia.
Tabel 1 adalah informasi hasil kiriman tiap DIC  di Indonesia dari kiriman data dan Isolat virus Ke BBVet Wates, bedasarkan tahun isolate virus
 
Tabel 2 adalah informasi hasil kiriman tiap DIC di Indonesia dari kiriman data dan Isolat virus Ke BBVet Wates, berdasarkan jenis speciesnya
Tabel 3 adalah daftar 34 isolate virus yang merupakan hasil seleksi dari 367 isolate virus antara DIC Wates sebagai pusat Antigenic Cartography dengan Dr Mia Kim dari OFFLU dan Drh Nining MVSc sataf dari FAO pada tanggal 14 oktober 2010 bersama Dr Mia Kim,
Untuk periode bulan September sampai Desember 2010 BBVet Wates telah melakukan pengujian isolate virus dan pengolahan data dari Hasil HI test, adapun data tersebut tersaji sebagai berikut;
Tabel 4, Data Pengirim Isolate virus AI dan data hasil pengujian HI test AI ke BBvet Wates
No
Nama Pengirim
Jenis kiriman
Jumlah kiriman
Hasil isolasi
Hasil  HI test
1
BBVet Maros
Data Pengujian dan Isolat virus
17
2
17
2
BPPH Bukit Tinggi
Belum
Belum
Belum
Belum
3
BPPH Banjar Baru
Isolat Virus
11
3
3
4
BBVet Wates
Isolat Virus
6
6
6
5
BPPH Lampung
Data Pengujiaan
4
0
4
6
BPPH Medan
Data Pengujian
4
0
4
7
BBVet Denpasar
Belum
Belum
Belum
Belum
8
BPPH Subang
Belum
Belum
0
1




Tabel 3, Data pengirim Isolat virus AI ke DIC Wates bulan  Agustus – Desember 2010


Tabel 4, Data Daerah asal Isolate virus yang yang telah di ujikan dari bulan Agustus – Desember 2010
 Setelah dilakukan pengujian dengan 3 antisera dari 34 isolate virus terbut maka dapat di peroleh gambar grafik sebagai berikut  seperti tergambar pada grafik 1:


Pembahasan
Dari Gambar  grafik 1 merupakan hasil Prescreening  dengan metode uji  HI test dengan menggunakan 3 antisera yaitu Tasiksol yang digunakan sebagai perwakilan virus-virus baru yang bersirkulasi di sektor 3, SMI HAMD yang digunakan sebagai perwakilan virus-virus lama yaitu isolate virus yang diperoleh sebelum tahun 2008 dan KONAWE digunakan sebagai perwakilan virus-virus yang berasal dari sektor 4 yaitu ayam-ayam kampung. Berdasarkan hasil uji HA dan HI test dari 34 isolate yang di peroleh selama 4 bulan akhir di tahun 2010 tampak pada gambar grafik 1 


yaitu gambaran virus-virus AI yang di uji dengan sera Tasiksol berada di posisi atas, dilanjutkan virus-virus  AI yang diuji dengan menggunakan sera SMI HAMD di posisi di tengah dan dilajutkan di posisi bawah adalah viru-virus AI yang diuji dengan sera KONAWE, sehingga dari hasil serologis tersebut dapat disimpulkan bahwa virus-virus AI yang bersirkulasi di Indonesia masih terus berevolusi. Proses evolusi ini termasuk cepat dari jangka waktu 4 bulan saja sudah tampak perubahannya secara nyata, hasil pergerakan evolusi virus-virus AI tersebut dapat di ketahui dengan membandingkan dengan data-data hasil Prescreening virus-virus AI sebelumnya, seperti terlihat pada Gambar Grafik 2, gambaran grafik ini merupakan hasil Prescreening virus-virus AI pada tahun 2008, sedangkan hasil Prescreening virus-virus AI pada tahun 2010 dapat di amati pada Gambar Grafik  3, dari kedua gambar tersebut kalau kita amati dengan seksama tampak dengan jelas perubahan posisi virus-virus AI ketika di ujikan dengan 3 antisera yaitu TASIKSOL, SMI HAMD dan KONAWE, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar grafik 2 dan 3
Gambar Grafik 2
Gambar Grafik 3

Gambar Grafik 2 dan 3 dari isolate virus  periode Januari – Mei tahun 2010, adalah sebuah gambaran (Pattern) proses perubahan virus-virus AI yang di uji secara serologis, dapat di lihat dengan jelas, bahkan per semester tahun ; walaupun demikian semua isolate harus bisa di pastikan secara genetic, melalui proses sequencing, dari hitungan asam basa tersebut kita bisa mengklasifikasikan secara filogenik virus yang berkembang. Tahun demi tahun virus bisa berevolusi secara serologis, namun kalau di gambar  peta (Cartography) secara 3 dimensi maka virus tersebut di prediksi masih bersirkulasi di clade 2.1.1 dan 2.1.3, jadi belum mengarah jauh pindah clade, tetapi virus-virus Avian Influenza H5N1 masih berpotensi terjadi “Reasortan” perpindahan susunan asam basa dalam RNA antar species, sehingga perlu di waspadai. Pada tahun 2010 ini isolate virus AI yang berasal dari mamalia hampir tidak ada sama sekali; bahkan kejadian AI di Indonesia cenderung menurun di tahun ini menurut  FAOAIED News, dari 1300 respoden di seluruh Indonesia melalui informasi PDS/PDSR data untuk kejadian AI di lapangan dicoba di kumpulkan untuk memberikan gambaran di tiap daerah desa,  kecamatan maupun kabupaten di Indonesia , hal ini penting untuk menentukan daerah bebas  AI secara terbatas.
Permasalahan yang berkembang dalam penanganan penyakit AI tidak hanya dalam menentukan bagaimana cara membebaskan AI pada suatu daerah, namun juga bagaimana cara dalam menentukan vaksin yang tepat, dari beberapa sampel isolate AI yang telah di uji, tampak variasi virus yang berubah pada setiap tahunnya; kalau kejadian itu terus berubah maka Indonesia akan sulit menentukan antigen yang sesuai, dan bagaimana memproduksinya, dan mungkin yang menjadi permasalahan klasik yaitu bagaimana aplikasinya di masyarakat sector 1 sampai 4, apakakah harus ada kebijakan baru untuk membuat langkah pemerintah menjadi lebih arif disaat para rakyat sudah menunggu lama untuk mendapakan solusi yang tepat untuk mengatasi wabah Avian Influenza.
Kesimpulan sementara yang di peroleh adalah adanya proyeksi pergerakan virus di tahun 2010 mulai mengarah ke arah isolate Tasiksol, sedangkan isolate Taksiksol tersebut merupakan isolate yang di peroleh dari peternakan di sector 1 dan 2, jadi wabah AI yang terjadi pada Breeding Farm, namun yang menjadi keprihatinan kita yaitu tidak adanya control dari pemerintah dalam mengendalikan vaksin illegal masuk ke negri ini menambah masalah yang lebih berat dalam penanganan kasus AI, dan akhirnya ternak-ternak rakyat lah yang menjadi korban.






Daftar pustaka
Horimoto,T. and Kawaoka., (2001).-Pandemic Threat Posed by Avian Influenza A Viruses. Clinical Microbiology Reviews., 129-149

Murphy,B.R. and Webster R.G., (1996).- Orthomyxoviruses., 1397-1445

Potter.C.W. (1998). -Chronicle of Avian Influenza Pandemic.,  3-18

FAOAIDEnews.,(2010). H5N1 HPAI Global Overview.,  1-18

Kim M. and Selleck P., (2009) Konsultasi Tentang Peningkatan Kapasitas terkait OFFLU di Indonesia Makalah Workshop OFFLU/AAHL 1 Juli  2009 : 1-24.

Kim, M. and Selleck, P., (2009), Serology and Virus Typing for Antgenic Cartography, Makalah Workshop OFFLU/AAHL 2-4 September  2009 : 1-10.

Kim M. and Selleck P.,(2009) Analysis of Antigenic Cartography  Data, Makalah Workshop OFFLU/AAHL 2-4 September  2009 : 1-9.

Suwarno. Dkk., (2006). Karakterisasi Virus Avian Influenza dengan Uji Serologik dan Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction, Media kedokteran hewan., 2 : 2

Suzuki, Y. and Nei, M.( 2002). Origin and Evolution of Influenza virus hemaglutinin genes, Mol Biol Evol., 19: 501-509

Ron A.M, Foucier and Derek. J, (2008). Use of Antigenic cartography in Vaccine Seed Strain Selaction, Avian Disease, Jounal Citation Report :  220-223

Chen,H. & Bu,Z. (2009). - Development and application of avian influenza vaccines in China. Curr.Top.Microbiol.Immunol., 333, 153-162.

Fouchier Ron,A.M. & Smith,D.J. (2010). - Use of antigenic cartography in vaccine seed strain selection. Avian Dis., 54, 220-223.

Lee,C.W., Senne,D.A., & Suarez,D.L. (2004). - Effect of vaccine use in the evolution of Mexican lineage H5N2 avian influenza virus. J.Virol., 78 (15), 8372-8381.

Swayne,D.E., Beck,J.R., Garcia,M., & Stone,H.D. (1999). - Influence of virus strain and antigen mass on efficacy of H5 avian influenza inactivated vaccines. Avian Pathol., 28, 245-255.

Swayne,D.E., Beck,J.R., Perdue,M.L., & Beard,C.W. (2001). - Efficacy of vaccines in chickens against highly pathogenic Hong Kong H5N1 avian influenza. Avian Dis., 45 (2), 355-365.

Swayne,D.E., Garcia,M., Beck,J.R., Kinney,N., & Suarez,D.L. (2000). - Protection against diverse highly pathogenic avian influenza viruses in chickens immunized with a recombinant fowl pox vaccine containing an H5 avian influenza hemagglutinin gene insert. Vaccine, 18 (11-12), 1088-1095.

Swayne,D.E. & Kapczynski,D.R. (2008). - Strategies and challenges for eliciting immunity against avian influenza virus in birds. Immunological Reviews, 225 (1), 314-331.

Swayne,D.E., Lee,C.W., & Spackman,E. (2006). - Inactivated North American and European H5N2 avian influenza virus vaccines protect chickens from Asian H5N1 high pathogenicity avian influenza virus. Avian Pathol., 35 (2), 141-146.